Ada Udang di Balik Pondok Madani (Refleksi Negeri 5 Menara)
- Felicia Tiffany Hertada
- Nov 30, 2022
- 4 min read
Refleksi Negeri 5 Menara(hal 53-131)Kisah-kisah Alif sebagai anak pesantren Pondok Mardani dimulai pada lembaran halaman ini. Pembacaan qanun, aturan tidak tertulis yang tidak boleh dilanggar menjadi perhatian utama saya ketika memasuki awal bagian. Hal ini seperti menunjukkan bagaimana Pondok Mardani mengenali sikap siswa pada sebuah aturan. Saya sendiri pernah melihat dan merasakan berada di sekolah atau suatu tempat yang berdiri di atas banyaknya aturan yang mengatur jalannya kegiatan. Peraturan yang terlalu banyak dan mengikat ini akhirnya tidak dapat diingat oleh seluruh anggota dan berakhir pada banyaknya pelanggaran yang terjadi.
Jika pada kasus Alif, peraturan tersebut dibacakan secara langsung dan memiliki jumlah yang masuk akal sehingga siswa dapat meresapinya dan memiliki motivasi untuk menghapalkannya. Seperti yang dikatakan oleh Kak Iskandar, ketua asrama
“Akhi. Dengarkan baik-baik. Kita tidak mau membuat peraturan tertulis banyak-banyak, lalu kemudian dilupakan dan tidak diterapkan. Qanun ini maksudnya supaya apa yang disebutkan, dilaksanakan bersama. Memang tidak ada pengulangan karena harapannnya semua orang mencatat dalam hati masing-masing dan siap melaksanakannya.”
Atas basis tersebut pun, sekolah dapat lebih tertata karena siswanya tertib dan penegak aturan dapat dengan mudah mengatasi jika adanya pelanggaran. Bahkan, hal yang membuat saya kagum adalah bagaimana selanjutnya disebutkan alasan dari adanya peraturan-peraturan itu ketika Alif bertanya.
Menurut sebuah artikel yang memiliki tema “ Healthy Business, Healthy Employees”, terlalu banyaknya aturan akan memberikan efek buruk pada produktivitas karyawannya. Hal ini berlaku pula pada sebuah instansi Pendidikan. Memang untuk mendidik, namun apakah hal ini tidak membantu siswa untuk berani berkreativitas jika peraturan terlalu mengikat? Memiliki terlalu banyak aturan dapat membuat siswa merasa tidak dipercaya oleh sekolah dan pendapat mereka tidak memiliki bobot apa pun di sekolah. Artikel lain mengatakan bahwa terlalu banyak peraturan juga dapat menghambat rasa ingin tahu siswa. Oleh sebab itu, saya sangat menyukai bagaimana adanya sistem qanun ini pada pesantren Pondok Mardani.
Selain itu, dalam pelaksanaan selanjutnya dari qanun, siswa Pondok Madani dipercaya sendiri untuk menjunjung norma-norma dan peraturan lain yang sudah menjadi dasar dan selayaknya dilakukan. Seperti peraturan tentang kupon makan, hormat kepada yang lebih tua, sholat tepat waktu, dan lain-lain. Walaupun kehidupan anak pesantren di novel ini menjadi terlihat sangat padat dan tegas, adanya peraturan-peraturan tersebut memiliki dasar alasan yang jelas dan hasilnya diceritakan berdampak pada siswa.
Sistem di pesantren Pondok Madani yang saya harapkan juga ada di pendidikan adalah metode Jasus. Metode jasus ini benar adanya untuk membangkitkan semangat aware kepada masalah di masyarakat sekitar. Sulitnya penegakan aturan kini telah merajalela, tidak hanya pada lingkup kecil seperti sekolah, namun juga pada lingkup besar seperti negara bahkan dunia.
Metode jasus menurut saya dapat mendidik anak untuk selalu rajin menepati aturan dan tidak takut menegakkan kebenaran. Sehingga di masa depan pun anak berani menegur dan tegas terhadap orang yang melanggar peraturan. Sudah menjadi rahasia umum, telah banyak sekali penyelewengan peraturan karena yang melawan akan dibungkam atau tergoda suapan yang bernilai besar. Bahkan anak-anak di sekolah pun tidak terhindar dari kebiasaan seperti ini. Secara tidak langsung siswa akan membenci kawannya yang berani memberi kritik dan menegur.
Kemudian tidak hanya jasus keamanan, ada juga jasus Bahasa di Pondok Mardani untuk mendorong siswa untuk dapat menguasai Bahasa asing, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Jasus Bahasa ini juga diharapkan dapat diterapkan di instansi pendidikan lainnya di Indonesia. Seperti kata sebuah istilah dalam Bahasa Inggris “Fake it till you make it”. Paksakan itu hingga kalian mencapainya. Seperti yang Alif rasakan yaitu ketika dia awalnya sangat merasa terbebani dengan perlunya penggunaan Bahasa asing dalam kehidupannya. Namun, suatu saat, secara tidak sadar Alif sudah bisa membentuk kalimat lengkap dan menggunakan Bahasa asing tersebut sehari-hari.
Tidak hanya dalam hal Bahasa, bab-bab ini juga kembali menunjukkan pembelajaran siswa yang sangat mengglobal. Padahal sesuai perhitungan saya, latar waktu cerita Alif ini sekitar tahun 1987-1991, tahun dimana komunikasi dan teknologi belum berkembang pesat di Indonesia. Kenyataan ini memutarbalikkan pemikiran saya di awal cerita, ketika Alif juga berpikir sekolah pesantren tidak sebaik sekolah negeri. Sekolah pesantren ini justru sangat luar biasa mendidik semua aspek dalam anak, yaitu kedisiplinan, ilmu, dan agama yang menjadi hal penting di Indonesia. Deskripsi dalam buku ini menunjukkan bahwa pendidikan yang terbaik dapat diterima oleh siapapun walau dihalangi banyaknya keterbatasan ekonomi yang banyak dideskripsikan oleh penulis pada Alif dan teman-temannya. Semua ini sesuai tujuan 4 SDG : Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua. Hal ini banyak ditunjukkan mulai dari pembelajaran dan ekstrakurikuler anak yang sangat beragam. Kemudian juga dari buku-buku bacaan Raja seperti Oxford Dictionary of Current Idiomatic English hingga buku yang dibawakan Ustad Salman untuk menjadi referensi lain bagi siswa untuk belajar.
“Malam ini tidak ada yang baca buku pelajaran. Tapi saya akan bacakan kepada kalian potongan Mutiara kehidupan tokoh-tokoh ini,” katanya sambil memamerkan buku “Mandela: The Biography”, “BJ Habibie, Mutiara dari Timur”, “Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan”, “Marthin Luther King, Jr: Stride Toward Freedom”, dan “Mohammed, the Man of Allah”.
Selain dalam aspek pendidikan, bab ini kembali menunjukkan keberagaman budaya khususnya dari daerah asal Alif dan teman-temannya. Pada sela kisah kehidupan Alif di pesantren, diselipkan carita tradisi budaya Marosok yang unik secara detail. Ada juga kelucuan dari Atang yang masih suka menggunakan Bahasa Sunda hingga perjalanan kecil mereka di Ponorogo. Namun dibalik itu, Alif dan teman-temannya dapat saling memahami dan menjalin pertemanan yang kuat.

https://www.tagar.id/Asset/uploads2019/1570338590564-tradisi-marosok-minangkabau.jpg

Comments