Magnus Chase dan Dewa Thor : Si Pencari dan Si Pelupa (Resensi Novel)
- Felicia Tiffany Hertada
- Nov 30, 2022
- 4 min read


Judul : The Hammer of Thor
Seri : Magnus Chase and the Gods of Asgard
Pengarang : Rick Riordan
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : Yuke Ratna
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I
Tahun terbit : 2016
Tebal Halaman : 587 halaman
Seri Magnus Chase and the Gods of Asgard merupakan salah satu karya milik Rick Riordan yang menjadi buku favorit banyak remaja. Penulis seri-seri buku terbaik versi New York Times ini lahir di Texas, 5 Juni 1964 dan memulai karirnya dengan hobi membaca sejak kecil. Buku-buku sebelumnya seperti seri Percy Jackson dan seri the Heroes of Olympus telah mengundang banyak penggemar genre fantasi untuk menikmatinya, baik di negaranya maupun di mancanegara. Tidak terlewatkan, salah satu bukunya di seri ini berjudul The Hammer of Thor juga menjadi booklist dari penggemar-penggemarnya.
The Hammer of Thor adalah novel kedua setelah buku the Sword of Summer. Kisah Hammer of Thor terus mengikuti kisah Magnus Chase, putra Frey, yang masih berdamai dengan kenyataaan bahwa dia adalah seorang einherjar (para pahlawan yang telah meninggal dengan berani di dunia fana). Seperti yang di tunjukkan pada buku pertama, kehidupan Magnus saat masih di dunia sangat sulit dan kehidupan setelah kematiannya tidak berubah lebih baik. Rupanya, kisah Magnus Chase kali ini akan berhubungan dengan Dewa Thor untuk misi mencari palu Thor yang hilang (lagi) pada novel kali ini.
Semua ini dimulai dari Dewa Thor yang dikisahkan sebagai tokoh humoris. Dewa Thor memang memiliki semacam kebiasaan yang mengganggu, salah satunya sering meletakkan senjatanya kemudian melupakannya. Padahal Mjolnir, senjata palunya, adalah senjata yg memiliki kekuatan terbesar di Sembilan Dunia atau universe dari seri ini. Masalahnya, kali ini palu tidak hanya hilang terselip seperti remot televisi di sofa rumah, tetapi jatuh ke tangan musuh yaitu Thrym, si raja Jotun. Semakin mempersulit keadaan, Thrym harus menyembunyikannya di suatu tempat yang rahasia. Magnus Chase dan teman-temannya yaitu Jack si pedang, Sam sang Valkyrie, Heartstone, dan Blitszen pada akhirnya terpaksa harus menjalankan misi. Jika tidak dapat meraih kembali palu Thor dengan cepat, musuh-musuh Asgard akan memanfaatkan situasi dan melakukan penyerangan. Dunia fana akan menjadi tak berdaya melawan gempuran para raksasa. Sembilan Dunia akan terbakar dan peperangan yang menandai akhir dunia, Ragnarok, pun akan dimulai. Sayangnya, satu-satunya orang yang dapat menengahi perjanjian untuk mendapatkan palu tersebut adalah Loki, musuh terburuk para dewa.
Di dalam mimpi, Magnus didatangi Loki, yang mengaku sudah merancang perjanjian demi mendapatkan Mjolnir kembali. Tapi ada persyaratannya, Magnus harus membawa calon pengantin perempuan serta maskawin untuk dipersembahkan kepada Thrym. Harga yang Loki inginkan untuk pertukaran itu sangat tinggi. Magnus dan kawan-kawannya pun tak punya pilihan lain. Mereka harus segera menjalankan misi pengembalian Mjolnir, walaupun memenuhi semua persyaratan itu dalam waktu singkat bukanlah hal mudah. Tidak hanya itu, ratusan rintangan menunggu mereka di petualangan mencari palu Thor yang dilalui Magnus Chase dan kawannya. Seperti diceritakan di awal buku, Magnus harus mendapatkan mas kawin pernikahan dengan melewati sekelompok mahkluk semacam zombie dari bangsa Nordik. Kemudian dikejar berpuluh-puluh raksasa berukuran 6 kaki. Hingga bertemu para dewa termasuk sang pemilik thor yang ternyata tidak peduli sama sekali dengan akhir dunia. Sepanjang cerita, pembaca diajak untuk menahan nafas ketika rintangan-rintangan yang dilalui petualang ini datang satu persatu.
Namun, pada akhirnya mereka berhasil mendapatkan kembali palu Thor dengan banyaknya pengorbanan yang harus dilakukan. Salah satu pengorbanan itu adalah ketika mereka sekaligus telah melepaskan musuh terburuk para dewa, Loki. Loki yang terbebas tersebut bahkan berhasil merebut mas kawin pernikahan yaitu salah satu pedang ternama di kalangan bangsa Nordik ketika berlari melarikan diri. Dengan terbebasnya musuh terburuk dan sekutunya ini, para dewa menjadi sangat waspada dan begitu juga Magnus Chase. Inilah akar yang ditumbuhkan untuk buku Rick Riordan selanjutnya yaitu the Ship of the Dead. Menariknya, sebelum novel berakhir, Rick Riordan menambahkan potongan spoiler untuk buku selanjutnya.
Tidak hanya dari kisahnya yang seru, tokoh-tokoh dalam buku yang juga menarik dan unik mendorong pembaca untuk tidak berhenti membuka halaman selanjutnya. Tokoh pertama pastinya dari Magnus Chase yang sama menakjubkannya seperti di The Sword of Summer. Selain itu, ada juga pedang Magnus, Jack, yang menjadi salah satu tokoh penghibur dalam novel ini. Lalu, Sam sang Valkyrie dan Alex Fierro yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Kemudian tokoh sahabat Magnus yaitu kurcaci Heartstone dan Blitszen yang menambahkan unsur fantasi pada buku ini. Ada juga tokoh baru seperti Thor bersama dua kambingnya Otis dan Marvin, beberapa dewa, dan raksasa. Tokoh-tokoh tersebut dibungkus untuk saling melengkapi satu sama lain dalam alur maju dari novel gaya petualangan ini.
Dapat dikatakan bahwa novel the Hammer of Thor ini telah disusun dengan sangat baik. Hanya dengan melihat dan membaca sinopsisnya, pembaca dapat terpikat untuk menyukai dan membeli buku ini. Desain cover buku yang masih berbau fantasi dan setema dengan novel pertamanya membuatnya semakin unik. Warna cover, tulisan judul, dan ilustrasi gambar Magnus Chase mudah dicerna mata dan terlihat futuristik. Buku ini memang tebal dan terkadang membuat malas para pembaca, tetapi huruf dan spasi pada buku tidak terlalu kecil sehingga nyaman dibaca. Satu babnya juga tidak terdiri dari terlalu banyak halaman. Ditambah lagi, novel ini sangat terencana dengan baik oleh Rick Riordan untuk membangun buku-buku setelahnya. Walau begitu, masih banyak pembaca yang merasa klimaks di akhir buku kurang maksimal dan menegangkan.
Dari novel-novel karya Rick Riordan, pembaca setia pasti sangat kenal dengan kelucuan dan humorisnya bahasa dalam setiap cerita Rick Riordan. Ia tak pernah gagal membuat pembaca gemas sekaligus menikmati petualangannya. Baik konflik maupun penutup dibangun dengan rapi dan ditutup dengan baik. Deskripsi latar yang detail juga membantu dalam berimajinasi membayangkan hal-hal dalam cerita. Bahkan buku ini mengandung berbagai genre dan rasa yang bervariasi. Dari suka, duka, petualangan, cinta, persahabatan, keluarga, hingga semua yang diinginkan dalam sebuah buku, terbungkus menjadi satu dalam novel the Hammer of Thor. Hal lain yang unggul dari The Hammer of Thor adalah keberagamannya. Pembaca dikenalkan dengan berbagai ras, agama, seksualitas, dan identitas serta disabilitas gender dalam novel. Meskipun semuanya memiliki perbedaan, mereka semua telah disatukan dengan baik oleh Rick Riordan. Secara keseluruhan, The Hammer of Thor adalah novel lucu menarik yang membawa para pembaca pada perjalanan yang tidak dapat dilewatkan. Tentu saja, novel ini adalah rekomendasi yang luar biasa bagi seluruh kalangan umur untuk menikmati keseruan dunia fantasi bersama Magnus Chase.
Resensi oleh : Felicia Tiffany H

Comments