Berkenalan dengan Bumi Manusia (Reflkesi Bumi Manusia)
- Felicia Tiffany Hertada
- Nov 30, 2022
- 5 min read
Refleksi 1 Buku Bumi Manusia : Bab 1-3 (hal 1-91)

Sebagai salah satu karya terkenal dari Pramoedya Ananta Toor, buku Bumi Manusia adalah sebuah karya yang saya kagumi sejak bab pertama walau saat ini saya belum tuntas membacanya. Saya merasa bahasa dan pembawaan deskripsi pada buku milik Pramoedya ini sangatlah unik dan khas. Ia dapat membawa kenyamanan dan menggambarkan situasi yang diberikan pada setiap paragrafnya. Walaupun saya tidak mengerti beberapa hal tentang relasi sosial, kehidupan ekonomi, dan interaksi yang terjadi pada masa penjajahan, Pramoedya dapat membuat saya memahami, menerima, serta merasakan kondisi yang terjadi pada latar waktu buku ini.
Sebelum membahas keseluruhan buku, saya ingin menyebutkan hal pertama yang mengejutkan saya ketika membaca buku ini. Jika kita melihat halaman 12 dan 13, terdapat beberapa pemikiran yang berputar di kepala Minke. Di sini disebutkan kekaguman Minke terhadap mesin percetakan hingga Ia menyebutkan imajinasi, pendapat, dan prediksinya untuk zaman modern. Seperti berikut beberapa pembahasan dalam diri Minke mengenai mesin modern yang menjadi salah satu ketertarikan Minke
“Kereta-kereta api tanpa kuda, tanpa sapi, tanpa kerbau, ---belasan tahun telah disaksikan sebangsaku” “Memang tidak dengan uap. Dengan minyak bumi. Warta sayup-sayup mengatakan : Jerman malah sudah membikin kereta digerakkan listrik. Ya Allah , dan aku sendiri belum lagi tahu membuktikan apa listrik itu.”
- Minke, Bumi Manusia hal 12-13
Saya sendiri, yang telah melihat semua hal modern itu terjadi, merasa kebanggaan dan kekaguman atas hal yang Pramoedya angkat. Hal yang dulu sangat luar biasa ternyata menjadi hal yang biasa dan sangat wajar kita hadapi saat ini dan Pramoedya sudah memiliki cukup pengetahuan akan hal ini.
Minke ini sendiri adalah tokoh yang menarik bagi saya. Minke atau Sinyo (panggilan dari Nyai Ontosoroh). Merupakan salah satu murid di H.B.S (Hogere Burgerschool). Jika Minke berada pada era millennial saat ini, mungkin ia adalah tipikal anak berprestasi, pandai public speaking, ketua organisasi, dan anak yang terkenal sehingga penuh kehormatan. Ia juga seorang penulis dan disebutkan Minke dapat menggunakan keahlian berargumennya untuk berdagang pada perusahaan mebelnya. Uniknya di dalam cerita ini juga berada pada kisah cinta Minke dan Annelies yang berbeda. Tokoh Minke yang begitu terang-terangan dan Annelies yang polos membawa kelucuan yang menjadi bumbu dalam kisa bumi manusia.
Annelies adalah tokoh kedua yang menjadi salah satu fokus utama juga dalam buku ini. Annelies digambarkan sebagai gadis cantik Eropa-Pribumi yang pemalu dan lugu walau sebenarnya Ia cerdas. Keunikan dari Annelies adalah gayanya yang bisa dibilang sangatlah pribumi dan senang berbusana Jawa, bahkan perilakunya pun mirip dengan ibunya walau dirinya adalah gadis berdarah campuran yang hitungannya dulu memiliki pangkat yang lebih tinggi. Ia bahkan berkata ingin menjadi seperti mamanya, ingin menjadi pribumi yang artinya penduduk asli dan pada masa kolonial memiliki kasta paling rendah. Pada buku halaman 1-91 yang telah saya baca, Annelies memiliki gerak-gerik yang sulit terbaca dan membuat saya penasaran dengan cerita selanjutnya.
Begitu pula Nyai Ontosoroh yang telah membuat Minke terheran-heran setengah mati. Banyak sekali disebutkan pada awal bab mengenai kekaguman Minke terhadap cara pikir dan perilaku keluarga Mellema terkhusus Nyai Ontosoroh. Hal pertama yang menangkap perhatian disini ketika Nyai Ontosoroh dengan percaya diri mengatakan “orang-orang memanggilku Nyai”. Padahal pada zaman colonial Nyai adalah sebutan gundik eropa atau perempuan pengatur rumah tangga serta pemenuh kebutuhan seks laki-laki Eropa dan menjadi ibu dari hasil hubungan tersebut. Bahkan Nyai Ontosoroh dan Tuan Mellema tidak terikat dengan pernikahan yang sah, baik secara agama maupun hukum. Nyai Ontosoroh disini digambarkan sebagai wanita yang cerdas, bijaksana, beradab baik, pandai berbahasa, terbuka, dan mahir dalam pekerjaan kantoran seperti dalam manajemen. Padahal pada zaman ini wanita tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam kehidupan sosial atau dianggap sebagai bawahan saja. Sehingga Nyai Ontosoroh manjadi karakter yang menggambarkan wanita independen, modern, dan memberi pengaruh yang besar seperti Najwa Sihab, Sri Mulyani, dan Susi Pudjiastuti.
Karakter lain yang diperkenalkan pada bab awal adalah dua Robert yaitu Robert Suurhof dan Robert Mellema. Walau Robert Suurhof adalah sahabat dekat Minke, Ia gemar merendahkan dan menghina terutama terhadap kaum pribumi padahal ia adalah seorang indo yang mengaku dirinya belanda. Ia juga kerap menggoda Minke terutama tentang kisah cinta Minke. Di satu sisi, Suurhof juga akrab dengan Robert Mellema yang merupakan kakak Annelies. Robert Mellema ini digambarkan akrab dengan kemewahan dan selalu berpenampilan elit serta rapi. Deskripsi yang diberikan juga memperlihatkan Mellema sebagai orang yang rupawan, tinggi, cekatan, tangkas, dan sopan kecuali kepada ibunya.
Tak hanya itu, ada tokoh-tokoh yang menjadi pelengkap dalam buku bumi manusia. Seperti yang sudah diperlihatkan yaitu Darsam, seorang pendekar Madura yang setia,. Kemudian Jean Marais, seorang sahabat, teman bicara, dan rekan bisnis Minke serta Herman Mellema yang tak henti-hentinya membuat pembaca gemas atas perilakunya yang jahat kepada kaum terjajah.
Terlihat seperti yang saya sebutkan pada kebanyakan tokoh asal belanda pada buku, rasisme yang terdapat pada karya novel ini merupakan hal yang ingin dimunculkan pencerita tentang perlawanan terhadap kaum penjajah, kaum rasis, dan kaum yang suka mendiskriminasi. Dalam buku ini sendiri, kita melihat mental dari sahabat Minke sendiri, Robert Suurhof. Robert adalah seorang pribumi yang menolak “kepribumiannya” dari cara berpakaiannya, berbicara, berpikir, dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam benaknya, dirinya harus menyerupai Eropa totok. Karakter yang lebih ekstrim juga ditunjukan oleh Herman Mellema yang berkata kasar dan mengusir Minke seorang pribumi yang bertamu ke rumahnya.
Tak hanya isu rasisme, hal menonjol yang terlihat dalam kehidupan sosial di latar waktu kolonial ini adalah kuatnya budaya barat yang ada. Beberapa perilaku sopan dan pemikiran Minke sangat berdasar pada budaya barat. Contoh mudahnya ketika Minke berusaha mendekati Annelies. Ia tak henti-hentinya secara lancang memuji dan mengatakan Annelies cantik tak kepalang. Hal ini sangat berbalik dengan budaya orang Indonesia yang lebih halus dan perlahan.
Cara pikir Minke bahkan saya pikir juga telah terpengaruh oleh penjajah. Walau Minke memang menghargai wanita, tetapi Ia tidak maju menghadapi rasisme yang lebih tinggi terhadap wanita dan hidup di tengah kondisi itu. Kunjungannya di rumah Annelies dapat membuatnya terheran-heran pada Nyai Ontosoroh. Ia terheran-heran kepada Nyai Ontosoroh yang memiliki banyak ilmu dan mampu menerangkan layaknya seorang guru. Nyai yang marah dan berani membentak Herman Mellema juga menambah keheranan Minke.
Makna lain juga saya dapat dari pembicaraan Minke dan Jean Marais. Secara tidak langsung, Pramoedya berhasil menunjukkan kekuatan bangsa Indonesia dengan cerdasnya. Ia menghadirkan cerita melalui perspektif penjajah yang digambarkan oleh Jean. Disini Jean adalah seorang seniman Prancis yang datang untuk menjadi sekutu karena bayaran saja. Sehingga, hal ini membuat Jean Marais berhasil menceritakan hebatnya pasukan aceh pada zaman itu dari posisinya sebagai pihak normal dan menambah kepercayaan pembaca ketika membacanya.
Kekaguman saya pada percakapan antara dua sahabat, Minke dan Marais tidak berhenti disitu. Saya mendapatkan satu kata yang bermakna dalam dan benar adanya.
“Pernah kuceritai kau, kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau say kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya”
- Jean Marais, Bumi Manusia hal.83
Dalam pembicaraan mereka, Minke mengatakan Jean tidak pernah setuju dengan perasaaan kasihan dan saya juga setuju dengan hal ini. Ketika rasa kasihan melebihi perbuatan kita untuk membantu, hal ini sama saja ketika kita mengatakan “Ayo lindungi bumi” tetapi setiap hari kita tetap menggunakan kendaraan pribadi dan menebang hutan.
Hal terakhir yang saya perhatikan dan membuat saya penasaran adalah asal usul dari Jean Marais. Sama seperti Minke, saya penasaran tentang alasan dari keputusan Jean Marais untuk tetap tinggal di Hindia. Saya masih belum dapat merasakan perasaan dan cara pikir Jean Marais yang saya pikir merupakan tokoh yang cukup misterius.

Comments