Presiden Busana
- Felicia Tiffany Hertada
- Mar 29, 2023
- 11 min read
Oleh : Felicia Tiffany Hertada
Perdebatan itu terjadi di lorong kecil berlukiskan semburat-semburat cahaya jingga. Dengan pola bergaris, mereka mengintip dan mencetak ventilasi ruangan yang kedap dan lembap sebelum digantikan sang rembulan. Walau begitu, ruangan ini tetap penuh kunjungan manusia-manusia yang memikul bajunya masing-masing. Satu orang membawa baju-baju yang semerbak busuk baunya dan yang lain keluar berbekal wangi raut muka yang puas. Siapakah mahasiswa yang tidak memilih untuk menghabiskan waktu senggang ini untuk mendaur ulang busana mereka? Berburu saling menunggu giliran untuk berkesempatan mencuci busana mereka. Namun, di balik itu, jumlah antrean ini sudah terlewat batas normal. Mahasiswa- mahasiswi ini seperti telah gila mencuci dan bergaya dengan busananya yang terus berganti. Baru saja sela-sela perubahan jam kelas, masing-masing dari mereka telah rajin mengganti model bajunya. Ada yang berkata, “sudah basi model baju ini aku gunakan berjam-jam” dan sisanya tidak dapat memberi alasan selain “bukankah ini normal?” Konon katanya semua ini bermula sekitar 10 tahun lalu. Terkisahkan seorang mahasiswa yang baru memasuki tahun pertama di kampus itu. Awalnya tak ada yang tahu siapakah dirinya. Hingga orang-orang mulai memperhatikan dan tertarik dengan dirinya. Tiap- tiap hari ia gunakan busana yang berbeda namun terlihat sangat mewah. Ke mana pun ia pergi, semua orang di kampus itu mengenalnya. Tak pernah sekalipun orang-orang melihat dirinya menggunakan baju yang sama. Setiap hari merek baju terkenal dan mahal bergantian melekat di tubuhnya. Tanpa tahu apa-apa semua orang mengenalnya dengan julukan si kaya. Si kaya ini kemudian mendapat julukan lain yaitu si jenius. Semua nilai-nilai di atas kertas sangat sempurna. Apalagi kehidupan sosialnya yang tak membosankan. Anehnya tak ada yang menyadari bahwa semakin terkenal dirinya, semakin meningkat prestasinya. Sebagaimana tak ada yang menyadari bahwa dirinya dulu hanya mahasiswa biasa. Namun semakin terkenal dirinya, semakin banyak pengajar yang memberikannya hak-hak istimewa agar diakui oleh mahasiswa itu. Semakin banyak orang-orang yang peduli kepadanya dan baik padanya. Si kaya dan jenius kini menjadi bintang di kampus itu. Tren-tren busana di kampus kini mulai mengikuti model sang kaya dan jenius. Mahasiswa-mahasiswi hingga keluarga di kampus itu juga mulai menjadikannya teladan. Si kaya dan jenius juga sadar dirinya menjadi bintang di kampus dan ia memanfaatkan hal itu.
Banyak orang yang sudah meminta saran kepadanya, tentang bagaimana caranya menjadi bintang, namun ia hanya menjawab. “Orang-orang hanya melihat dirimu dari penanmpilan luarmu saja. Jadi kau tahu apa yang harus kamu lakukan.” Begitulah bagaimana kegilaan berbusana di sekolah itu dimulai. Orang-orang berburu untuk membeli baju dan menunjukkan eksistensi mereka. Tak sedikit pula yang membeli barang-barang palsu hanya untuk meningkatkan namanya di kalangan publik. Sehingga pada akhirnya semua kegilaan ini menjadi hal normal di kampus itu. Kini, si kaya dan jenius sudah menjadi alumni kenangan di kampus itu. Sebagai seorang alumni yang menjadi ikon kampus. Orang-orang kini menyebutnya presiden busana. Seperti mengguncang dunia, presiden busana kini telah meninggalkan jejaknya di kampus itu dengan sistem tak kasat mata ini. Maka dari itu, mahasiswa di kampus busana, yang memang kampus ini diberi nama itu, mulai berfokus pada penampilan dibanding kebutuhan untuk mengejar ilmu. Busana dan nama baik diutamakan di atas buku-buku dan medali logam. Mengetahui hal ini, kampus mulai membuat kebijakan baru. Mulai saat ini juga, tidak ada yang disebut dengan nilai dan peringkat. Tetapi nilai digeserkan dengan kebebasan menggunakan busana. Semakin tinggi prestasi dan nilai seorang mahasiswa, semakin bebas jenis busana yang dapat mereka gunakan. Maka dari itu, peringkat-peringkat mahasiswa dapat semua orang lihat dengan caranya berbusana. Namun tak disangka, sistem ini kemudian berjalan hingga puluhan tahun umur kampus. Tidak ada pihak-pihak yang berusaha mengkritik. Dibiarkan begitu saja. Seakan-akan sistem ini tidak memiliki lubang di mana pun. Walaupun, mahasiswa kini saling berusaha menjatuhkan dan mencari nilai hanya untuk kebutuhan penampilan. Lalu, apakah lembaga pendidikan salah menilai? Atau kritikan dibungkam hanya untuk menjadi dongeng pengantar tidur? Di antara alumni kampus busana, ada satu mahasiswa yang merebut kebebasan berbusana peringkat atas di hari pengumuman kelulusan. Terlihat dirinya tidak pernah memegang buku ataupun menyentuh buku untuk hanya menerawang halaman demi halaman. Tidak hanya untuk prestasi akademik, ia juga selalu menjuarai olimpiade olahraga yang ia ikuti. Mahasiswa lainnya hanya bisa menyebutnya si peramal. Bagaikan ia tahu seperti apa soal-soal ujian yang keluar ataupun merancang strategi untuk permainan fisik. Kata teman- temannya, di awal semester, nilainya tak pernah sebagus ini. Hingga suatu hari ia bertindak aneh dan mencurigakan. Tidak lewat satu minggu, ia kembali bertindak normal. Namun, busananya menjadi sangat mewah dan seketika ia menjadi idola banyak wanita. Tetapi tidak ada yang tahu. Bagaimana rahasia si peramal memenangkan semua ini dan mendapatkan kebebasan berbusana hanya dalam waktu beberapa hari. Sebenarnya, si peramal hanya pandai berolahraga. Namun, pihak kampus busana tak menganggap prestasi dan bakat ini sebagai sebuah prestasi yang wajib dianggap. Berbusana yang anggun layaknya digunakan untuk kegiatan yang berwibawa, bukannya berlompat- lompat dan berlari dalam sebuah kompetisi olahraga. Makin pusinglah ia karena kehidupan kampusnya kian sulit. Hampir semua orang yang ia temui meremehkannya karena bajunya yang selalu bau dan kusut akibat ia rajun berlatih. Dulu, nilai biasa pun tak apa, busana minimalis pun ia tak apa. Sebesar itulah pengaruh busana terhadap perlakuan orang kepadanya. Hingga ia yang lelah pun mencari cara untuk mendapatkan nilai terbaik. Begitulah mengapa setiap sehari atau dua hari sebelum ujian dimulai, si peramal selalu menyelinap ke ruang berkas sekolah. Dengan bakatnya, ia dapat dengan mudah mendapatkan kunci jawaban untuk semua soal ujian. Hal ini terjadi selama beberapa tahun ia bersekolah. Hingga tanpa disadari, sebuah organisasi gelap untuk transaksi kunci jawaban semakin merajalela di kampus. Mahasiswa- mahasiswi berbahagia karena mereka kini tak perlu bersusah payah mendapatkan hak istimewa berbusana. Mereka semakin malas dan memberikan kepercayaan mereka untuk ujian kepada si peramal. Jumlah busana yang digunakan mahasiswa untuk nama baik mereka meningkat drastis. Organisasi yang ditutupi dengan nama pendekar ketertiban berbusana itu semakin meluas tanpa sepengetahuan kampus. Antara tak tahu atau pura-pura tak tahu untuk menjaga reputasi kampus. Hingga ia pun kini menjadi alumni yang dicari-cari orang. Karena prestasinya, bukan perbuatan buruknya. Walau begitu, tidak tenang hatinya karena kegelisahan dan rasa takut. Bagaimana jika dirinya mengecewakan dan diinjak-injak kembali? Bagaimana jika orang-orang tahu akan rahasianya dan ia akan kembali ke masa lalunya dengan busana yang tak bernilai? Rasa gelisah itu terus menggerogoti hatinya. Tiap-tiap hari ia menolak tawaran jabatan dengan alasan menikmati masa kelulusan terlebih dahulu. Pada akhirnya, ketika hartanya telah habis, ia memilih untuk mencuri dengan bakatnya. Karena hanya itulah yang bisa ia lakukan dan pelajari selama menempuh pendidikan. Semua hal yang ia kejar demi penampilan dan busana kini tak ada artinya. Lima tahun berlalu dan konon katanya sebuah grup mafia baru telah menjadi kriminal nomor satu dalam negeri. Di tahun selanjutnya, sistem pendidikan di kampus diubah. Penilaian tidak berdasarkan atas kunci jawaban pasti namun jawaban-jawaban esai yang diinginkan guru. Nilai yang diatas rata-rata makin sulit didapatkan dan kampus mulai kembali ke zaman sebelum presiden busana datang. Seketika tak ada yang superior dalam berbusana. Seketika tak ada lagi kunci jawaban untuk diselundupkan dan nilai siswa turun dengan tajam. Walau begitu, di dalam sistem apapun, akan tetap ada yang berada di atas. Ia adalah seorang mahasiswi jenius yang menjuarai sejuta esai dalam negeri. Putri esai katanya. Bagai tak ada habisnya, ide selalu ia dapatkan untuk kembali menulis, menulis, dan berkarya. Ia selalu terlihat bekerja di depan kertas-kertas ataupun mesin ketik modern. Semua esainya seperti jendela-jendela dunia yang mencakup semua ilmu. Banyak yang berkata sejak kecil ia sudah membaca ribuan buku. Ada pula yang berkata bahwa orang tuanya mulai mendidiknya ilmu eksak sejak balita. Rumor-rumor itu terus berputar dibelakangnya yang tak sadar karena terlalu sibuk menulis. Andai saja ada yang tahu siapakah ia sebenarnya. Sebelum masuk ke kampus ini, ia adalah seorang artis fesyen di majalah-majalah besar. Kehidupannya telah berputar mengenai busana-busana dan hidup seakan tak bermakna tanpa adanya pujaan orang lain. Kemudian paniklah ia ketika memasuki kampus busana. Berbagai cara ia coba dan akhirnya gelar putri esai ia dapatkan. Ia pun kini lulus dengan nilai terbaik di seluruhh penjuru negeri. Putri esai sudah memiliki pengikut dari seluruh dunia. Bagaimana tidak? Ia yang awalnya adalah seorang artis, kini ditambah dengan keunggulan bakatnya dalam menulis. Karena itu, akhirnya sang putri memutuskan untuk melanjutkan karirnya dalam menulis untuk publik. Buku demi buku ia terbitkan. Bahasan dimulai dari politik hingga ilmu pengetahuan tak terlewatkan. Dibalik banyaknya penggemar bermunculan, spam surel dari oknum tak dikenal semakin menumpuk. Tahu akan isinya, sang putri semakin berniat mengabaikannya. Begitu juga pihak seberang, semakin tak terjawab surel mereka, semakin besar pula niat mereka mendatangi sang putri esai. Hingga akhirnya rumah sang putri didobrak dengan keras dan sang putri ditangkap atas dugaan keras melakukan plagiarisme. Ribuan rumor tentang buku yang ia baca. Namun kenyataannya ribuan jurnal yang ia tiru. Kini semua itu berubah menjadi ribuan hari dalam kurungan. Konon katanya, di dalam jeruji penjara ia semakin gila karena dirinya tak memiliki pendirian. Ia merasakan hidupnya hampa karena tak ada lagi yang dapat ia tiru. Dirinya pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam jeruji yang kosong akan pujian- pujian dari penggemarnya. Kedua alumni yang telah lulus terkena kasus. Mahasiswa dan mahasiswi tak tahu akan hal ini. Mereka terlalu sibuk mengejar hak istimewa untuk berpenampilan yang terbaik dan mendapatkan pelayanan terhormat dari orang lain. Nilai dan pendidikan dikejar-kejar dengan tujuan yang salah. Beginilah prosedur yang mereka tahu. Mencari cara mendapatkan angka-angka yang tinggi kemudian berbusana, bukan untuk mengejar mimpi. Serendah itukah kodrat sebuah mimpi? Selain mencari nilai dan memperbaiki penampilan luar, ada hal lain yang mereka pelajari. Seperti pentingnya sebuah koneksi dan hak-hak istimewa. Tidak belajar dari keadaan, banyak anak yang kemudian berusaha dekat dengan pengajar demi mendapatkan angka-angka diatas kertas yang sempurna. Namun mereka lakukan ini dengan merendahkan derajat guru melalui tawaran harta. Suapan dan sogokan uang berkali-kali lipat menjadi tren terbaru di sekolah ini. Hingga beberapa mahasiswa lain yang mengetahui fakta ini menganggapnya sebagai hal normal dan tidak menceritakannya kepada orang lain. Mereka kira mahasiswa ini, sebut saja para kontraktor, memang berhak mendapatkannya. Begitulah masalah ini menjadi rahasia umum yang tidak pernah dibantah siapapun. Walau begitu, tidak bisa dikata untung atau sayang. Tidak semua siswa berlatar belakang bagus dan tinggi. Itulah mengapa, anak berandal, pembolos, dan pemalas dapat berbusana tanpa adat dan sangat bebas. Busana menjadi alasan untuk berbisnis buruk dan politik yang kotor. Kembali kita berkata. Konyol sekali. Ketika mahasiswa-mahasiswi melupakan tidur mereka untuk saling menjatuhkan yang lain dengan angka-angka ilusi dalam laporan pendidikan, para kontraktor itu mendapat fasilitas penuh di kampus. Hidupnya sangat tenang. Begitu naifnya sampai-sampai mereka tak tahu solusi dalam segala persoalan hidup selain dengan harta. Sejak kecil, mereka hanya perlu melakukan yang diperintahkan orang tuanya dan mendapat upah untuk dihabiskan. Sehingga, ketika kertas-kertas motivasi mahasiswa-mahasiswi lain berisi daftar busana yang akan mereka beli, hanya kertas mereka yang berlukiskan menara Eiffel dan bangunan-bangunan tinggi di Amerika. Tentunya hal ini atas perintah orang tuanya pula. Miris sekali. Tapi memang benar, mimpi mereka tercapai. mereka meraihnya seperti kuda. Mereka dapat pergi ke negeri-negeri tetangga hanya sebagai tunggangan. Sebagai alat untuk dikendalikan karena hartanya berlimpah namun otaknya kosong. Bahagia dalam kebodohannya sendiri. Orang pertama dari mereka memasuki ruang kerjanya, menandatangani surat-surat, dan pulang ke rumah. Hartanya terus masuk dan satu tahun itu berjalan dengan lancar. Hingga suatu hari, sekelompok kriminal menemuinya diam-diam. Surat-surat yang selama ini ia tanda tangani ternyata adalah surat-surat hutang dengan kelompok kriminal itu. Hari itu, seorang kontraktor hilang tanpa kabar. Keluarganya sadar mereka tak bisa apa-apa dan hanya bisa berharap. Konon katanya, teriakan mengerikan selalu terdengar setiap malam di tempat terakhir dirinya terlihat. Semakin lama, semakin keras suara itu. “Itu bukan aku. Aku tak tahu apa-apa!” begitulah teriakan berbunyi setiap malam. Ketidaktahuan melahap dirinya sendiri. Cerita sang kontraktor lain juga berakhir buruk. Sama seperti nasib orang pertama, mereka lulus tanpa membawa apa-apa. Tidak ada prestasi, tidak ada nilai, tidak ada masa depan. Setiap hari mereka hanya menjadi lintah untuk orang tua mereka. Beberapa memilih untuk mengulang jenjang pendidikan mereka. Beberapa yang lainnya lanjut bekerja dan mendapat jabatan atas nama uang. Begitulah hidup mereka tidak berguna dan hanya menjadi busuknya sampah masyarakat. Hidup bersama lintah yang lain, hanya menjadi pemuja untuk nama baik, penampilan, dan harta yang terus berputar di antara mereka. Adanya kasus-kasus mahasiswa ini pun dikubur oleh kampus dengan bungkaman kertas-kertas bertinta dolar. Peraturan busana semakin didewakan dan tak ada upaya menghilangkan diskriminasi busana di sini. Lalu, siapakah yang tidak menjadi gila dan jahat disini? Tidak normal sekali dirinya. Tapi memang ada. Mahasiswa itu adalah juara dalam segala bidang. Olahraga ia juarai dan menjadi yang tercepat. Seni yang subjektif seakan dibaca olehnya. Sastranya menggerakkan hati semua orang. Tidak selesai ia berprestasi, ilmu-ilmu eksak pun ia hafalkan di luar kepala. Organisasi dalam kampus ia ketuai dengan handal. Sepertinya, tak ada yang ia tak bisa lakukan di dunia ini. Kepintarannya itu di sisi lain mengundang kelicikan dan ego yang tinggi baginya. Setiap hari dirinya berubah busana. Sang bertalenta melihat keadaan ini sebagai keuntungan yang dapat dimanfaatkan. Suatu hari, ia gunakan baju tim olimpiadenya untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas olahraga tanpa membayar. Lain hari, diam-diam ia gunakan medalinya untuk mencuri buku- buku di perpustakaan dengan mengatasnamakan pihak perlombaan. Keesokan harinya lagi, ia gunakan jaket organisasi untuk alasan telat dan membolos saat kuliah berlangsung. Begitu terus setiap hari tipuannya selalu berubah agar tidak diketahui. Hingga di hari kelulusannya, ia puas dan mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan terkenal di dunia. Walau begitu pangkatnya tak cukup tinggi di sana. Untuk naik pangkat pun ia tak bisa. Otak yang cerdas tidak cukup baginya karena atasannya selalu memanfaatkan kejeniusannya itu. Setiap ide jenius yang ia ajukan selalu diklaim dan semua kesalahan dijatuhkan kepadanya. Ada baiknya dirinya pintar karena si bertalenta ini dapat bertahan hingga saat ini. Namun, karena itu pula penderitaannya bertahan lama. Waktu demi waktu berganti, hingga hari tua ia bertahan pada jabatan itu dan tidak dapat berpindah kerja. Begitulah bagaimana si bertalenta mendapatkan karmanya, dengan dimanfaatkan.
Si bertalenta ini mempunyai sahabat dekat yang bernasib tak jauh dengannya. Sang pekerja keras. Walau tak jenius, dirinya adalah manusia paling rajin yang pernah ditemukan. Tak ada rasa bosan dalam dirinya ketika mempelajari sesuatu. Hidupnya sangat menginspirasi dan menjadi teladan semua umat. Hanya satu kelemahannya. Mimpi. Mimpi-mimpi yang dimiliki semua orang seakan tak berpihak pada dirinya. Dirinya selalu menyibukkan diri untuk membaca dan belajar. Benar-benar tak memberi waktu untuk sang pekerja keras rehat dan merefleksikan diri. Satu kata untuknya. Ia gila belajar. Saat makan, Ia membaca buku. Saat mandi, Ia mendengarkan radio pendidikan. Saat waktu tidur tiba, dirinya memilih untuk tidur seminimal mungkin dan melanjutkan menulis dan berkarya. Namun untuk apa semua itu? Satu-satunya hal yang ia tahu adalah bagaimana ia hidup untuk mencari nilai-nilai di atas kertas. Sejak kecil, sang pekerja keras tidak pernah keluar dari lingkup kampus. Orang tuanya adalah seseorang yang selalu bekerja, seperti anaknya, dan tak pernah pulang. Mereka hanya meletakkan anaknya di kampus ini dengan bekal secukupnya. Selain untuk melanjutkan pendidikan, ia hidup untuk mengikuti tren busana di kampus itu. Hingga kembali tiba hari kelulusan. Lagi. Sejarah terulang, si pekerja keras lulus dengan nilai terbaik. Lagi dan lagi. Namun, sudah dapat ditebak kemana dirinya akan melanjutkan karirnya. Ia akan terus belajar dan menambah ilmu. Belajar dan menciptakan karya-karya baru. Belajar dan menulis buku-buku untuk dipajang dirumahnya. Berprestasi untuk dirinya sendiri. Mereka simpan semua karya anak itu dalam sebuah ruang tertutup. Katanya karyanya terlalu berharga untuk ditunjukkan pada dunia. Lalu apa gunanya ia menggali ilmu? Sang pekerja keras juga tak tahu. Ia hanya tahu bahwa ia akan hidup untuk selalu ke penatu dengan gratis. Tahun demi tahun. Abad berganti abad. Lulusan-lulusan kampus busana semakin patut untuk dicurigai. Kampus tak bisa lagi menahan tumpukan prasangka buruk dari publik. Rumor- rumor keburukan lulusan kampus ini sudah meluap menjadi pembicaraan masyarakat yang tak sadar telah menjadi fakta-fakta yang dipercaya. Semakin menumpuk pertanyaan-pertanyaan masyarakat mendorong lembaga-lembaga pendidikan untuk bergerak. Negara pun diam-diam mengirimkan mata-mata untuk menyelidiki. Dengan berbekal ketidaktahuan dan kepercayaan penuh kepada kampus favorit ini, mereka menyamar menjadi salah seorang mahasiswa di sana. Namun, dengan mudah mata-mata itu mendapatkan kebenarannya. Begitulah bagaimana tidak sampai satu hari mereka tinggal disana, mata-mata itu kembali keluar.
“Sebentar, aku masih tidak yakin akan mengelak pernyataan ini. Biarkan aku memastikan sekali lagi.” Kata salah seorang dari mereka. Ketidakpercayaan mereka yang begitu besar semakin mendorong rasa penasaran dari dunia luar. Satu minggu mereka disana, keluarlah mereka membawa selembar kertas bertuliskan presiden busana. Masyarakat sudah siap mendengarkan mata-mata itu membantah semua rumor buruk. Namun, fakta berkata sebaliknya. “Tidak dapat dipercaya, selama ini kita hanya berimajinasi buruk terhadap kampus itu. Nyatanya kampus ini tidak memiliki masalah apa-apa. Normal-normal saja dari yang kami lihat. Kampus ini benar-benar cocok disebut kampus favorit nomor satu.” “Lalu mengapa rumor itu tersebar?” jawab seorang hakim. “Bagaimana tidak? Orang-orang sangatlah iri dan dengki, sebagaimana adanya sifat manusia. Kampus itu memiliki pendidikan yang sangat sempurna dan sesuai untuk negara kita. Sesungguhnya, kita, negara busana harus belajar dari kampus ini. Apa jadinya negara kita jika tidak dipimpin oleh anak-anak seperti mereka? Memang sudah seharusnya kita dipipimpin oleh sekelompok pemuja busana yang berprestasi.” Kata mata-mata itu terhadap pimpinannya, yaitu ia yang disebut presiden busana.
-- TAMAT --


Comments