top of page
Search

Dua kata

  • Writer: Felicia Tiffany Hertada
    Felicia Tiffany Hertada
  • Mar 29, 2023
  • 6 min read

Oleh : Felicia Tiffany Hertada


Malam itu dingin. Sungguh dingin. Butiran salju terus mendarat di rambut pendekku. Keberadaannya seakan ingin menambah kesan berantakan padaku yang hanya mengenakan pakaian hari kemarin. Aku percaya rupaku pasti tak enak dipandang. Hingga semua orang hanya hilir mudik melewatiku. Sebentar saja mereka hanya melirik padaku. Walaupun ada beberapa yang berhenti mendengarkan aku bernyanyi bersama gitarku. Tetapi sedetik dua detik kemudian mereka pergi. Berhenti untuk iba mungkin? Melihat lelaki muda sepertiku bernyanyi tanpa suara.

Tapi tak apa, aku senang hanya dengan ini. Aku memang sebenarnya tak terlalu butuh perhatian. Aku disini, hanya untuk bernyanyi. Menyebarkan hobi anehku di setiap malam natal. Walaupun tiap tahun kota ini semakin sepi ditelan oleh kota lain yang lebih maju. Kemudian ketika malam itu hampir berakhir, aku menemukan gadis kecil menatapku dari kejauhan. Seorang gadis kecil berparas cantik usianya sekitar 10 tahun. Atau mungkin kurang dari itu. Tubuhnya tampak kedinginan. Telinganya ia biarkan terbuka hingga hanya warna merah yang terlihat. Padahal penutup telinga menggantung bosan di pergelangan tangan.

Memang awalnya ia tidak kupedulikan. Kemudian seiring aku bernyanyi, ia masih setia melihat dari jauh. Kadang-kadang tersenyum. Kadang-kadang menatap kosong. Hingga aku mengemasi barangku tak lama kemudian. Tetapi ia tetap diam disitu seakan penasaran padaku. “Menarik” itu yang kupikirkan sejenak. Lalu aku pergi untuk pulang.

Natal selanjutnya tetap dingin. Salju semakin banyak seiring dengan berkurangnya penduduk. Gitar favoritku menemani lagi malam ini. Malam dingin masih belum bisa mengalahkan rasa senangku setiap natal. Hari dimana aku bisa bebas. Hari dimana semua orang sibuk dengan orang tercinta dan tidak memperhatikanku. Lalu aku bernyanyi dan terus bernyanyi dalam diam dengan rasa puas. Malam hampir berakhir kembali dengan cepat. Kuperhatikan jalanan lagi sebelum pulang. Kulihat satu sisi dan sisi lainnya, kemudian aku terhenyak. Gadis kecil itu kembali. Tak tahu mengapa, ada rasa senang melihatnya kembali. Tetapi timbul juga penasaran.

Penasaran akan dirinya. Gadis kecil yang setia menunggu dari jauh ketika orang lain tak acuh denganku. Ia tak maju, hanya diam di tempat. Seperti penguntit bisa dibilang. Tetapi sayang sekali. Ia datang terlambat. Malam hampir berakhir dan aku harus pulang. Memang sebenarnya tak tega melihatnya bersedih ketika aku berkemas. Lantas bagaimana lagi? Jika aku tak pulang, aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan.

Setahun lagi berlalu. Salju kembali melakukan tugasnya hari ini. Menemani natal untuk kesekian kalinya. Juga untuk menemani gadis kecil itu datang di akhir malam. Seperti biasa, tak sampai sepuluh menit ia datang dan aku terpaksa pulang meninggalkannya. Begitu pun natal selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Walaupun terlambat, tiap tahun ia selalu datang. Kemudian melihat dari kejauhan. Ia tampak mendengarkan dan terkadang bergerak seakan mengikuti nada. Bahkan aku tahu ia pasti tak akan bisa mendengarku karena aku hanya bernyanyi dalam diam. Lalu mengapa ia begitu? Apakah untuk mengejekku? Mempermainkanku? Atau mungkin ia benar-benar mendengar suara hatiku bernyanyi? Membingungkan.

Tak sadar sebagian dariku telah menempatkan gadis kecil itu menjadi orang penting di hidupku. Walaupun aku hanya dapat melihatnya setiap natal dan dari kejauhan. Hanya dengan melihat tingkah anehya. Tetapi, aku pikir kami nyaman dengan itu.

Sekali lagi malam natal tiba. Tak terasa keinginan bertemu gadis kecil itu telah menjadi tujuanku. Baru kali ini bernyanyi tak terlalu menjadi fokusku. Hingga kali ini aku datang lebih cepat dari biasanya. Padahal aku tahu ia akan tiba di akhir malam.

“Ya mau bagaimana lagi, ia akan selalu datang terlambat. Atau mungkin nanti akan kucoba mendekatinya, ” kata hatiku.

Tetapi tak kusangka. Ketika matahari telah mengintip dan mengajak pulang salju, Ia masih belum muncul. Gadis kecil itu tak datang. Apakah benar ia tak datang? Setelah setia menemaniku setiap tahun? Aku masih tak percaya. Natal kali ini sungguh mengecewakan. Bahkan aku tak pulang untuk menunggunya. Memikirkan kekecewaan bagaimana aku tak pulang.

Hingga kemudian kata pulang membuatku terdiam. Terdiam dan teringat. Lalu meraih barangku dan berlari tak peduli. Bagaimana bisa aku lupa untuk pulang? Apa yang akan mereka lakukan jika aku tak pulang? Seketika itu, aku mulai melupakan peristiwa gadis kecil itu dan memikirkan tahun esok. Tahun yang akan berlalu sangat panjang.

Benar pemikiranku. Tahun ini terasa sungguh lama. Walaupun tidak seperti yang kuduga, Ini terasa lama bukan karena mereka. Tetapi karena gadis kecil itu. Aku tak bisa berhenti tentangnya. Apa yang terjadi padanya tahun lalu? Apakah ia terkena musibah dan jatuh sakit? Apakah ia terpaksa untuk pergi merantau? Atau mungkin yang terburuk terjadi, ia tak suka melihatku lagi? Segala kemungkinan muncul di otak kecilku. Lalu berhasil membuatku memutuskan untuk berhenti bernyanyi malam ini. Untuk mencari dirinya.

Tekadku sudah bulat. Sayangnya, aku tak tahu harus memulai dari mana. Yang kutahu darinya hanyalah tempat dimana ia selalu menunggu, wajahnya, dan penutup telinga di tangannya. Sehingga saat ini aku hanya duduk diam di tempat itu. Di sebuah bangku kayu bersandar dibawah naungan lampu jalan. Lampu jalanan yang memancarkan cahaya kuning dan redup, tetapi menghangatkan.

Kutunggu ia datang. Menoleh kesana kemari . Berdiri berjalan kemudian duduk kembali. Semua usaha mencari kulakukan pada awalnya. Lalu tubuhku mulai kaku dingin seiring salju menutupi jalanan. Kulitku mulai memerah dingin bersamaan dengan berubahnya warna langit malam. Tetapi masih saja kutunggu ia datang.

Lima jam sudah berlalu. Aku akhirnya menyerah. Ini sudah tengah malam dan ia belum datang. Lebih tepatnya tidak datang. Kuputuskan untuk pulang melewati jalan yang sudah sepi. Salju mengarakku berbelok di ujung gang. Kemudian sesuatu menabrakku. Napas tersengal-sengal terdengar. Kulihat objek tersangka penabrakku dan aku terhenyak.

Gadis kecil cantik itu berdiri di hadapanku. Tingginya hanya sepundakku dengan tubuh yang kurus. Senyumnya merekah melihatku tetapi ia tak bicara. Kita hanya terdiam bertatapan selama beberapa menit. Setelah itu ia meraih saku dan mengambil sebuah buku kecil bersampul bordir kayu. Ditulisnya sesuatu di bukunya itu kemudian memberikannya padaku.

"Kenapa kakak tidak bernyanyi hari ini?" Begitu bunyi tulisannya. Lalu kutulis balik kepadanya tanpa bertanya mengapa ia tak bicara.

"Untuk mencarimu gadis kecil. Aku sudah melihatmu sejak lama. Dimana kamu tahun lalu?" kuberikan padanya. Tetapi ia tak menjawab. Sepertinya aku salah bertanya. Kuambil lagi bukunya dan kutuliskan

" Ayo berkeliling kota bersamaku"

Seketika itu matanya bersinar. Tangannya langsung menarikku ke arah tengah kota. Tempat dimana pesta natal diadakan. Ia berhasil membuat malam ini menjadi malam terbaikku. Malam dingin bersalju yang tidak kukira bisa menjadi seindah ini. Kami terus menikmati pesta bersama dan berkeliling kota. Dua putaran empat putaran, kami tidak peduli. Aku terlalu senang hingga melupakan untuk pulang. Kupikir gadis kecil ini juga merasakannya. Walaupun kami hanya berkomunikasi dengan tulisan dalam buku, kami puas sekali.

Rasa senang memang tak bisa lelah. Tetapi tubuh kami bisa. Ketika langit sudah mulai berubah warna, kami sudah bersantai kembali. Bersantai di bangku bersandar yang kami anggap milik kami. Lalu kulihat ia menulis dalam bukunya " Terimakasih untuk malam ini" bunyinya.

"Tentu, kita bisa melakukannya kembali tahun esok" Tetapi ia tak menjawab. Wajahnya tertunduk sedih ketika ia menulis.

"Aku tak akan bisa. Panti asuhan akan memindahkanku ke kota lain besok " Aku tertegun. Menatapnya dengan lembut lalu menulis kembali.

"Benarkah itu?" Tanyaku dengan curiga karena aku tahu panti asuhan itu, satu-satunya panti asuhan di kota. Panti asuhan itulah yang mengirimku kepada mereka. Mereka yang mengadopsi dan memperbudak anak-anak panti. Aku tak ingin gadis kecil itu menjadi sepertiku. Bahkan mereka pasti telah menyiksanya selama ini. Berbagai kebencian muncul di dalam hatiku hingga tanpa sadar ia telah menulis kembali.

"Benar, aku sukarela menggantikan temanku satu-satunya untuk dikirim kesana dan itulah yang mencegahku kesini tahun lalu" kalimat itu membuatku sungguh terkesima padanya. Tetapi sekaligus ada rasa bersedih untuknya.

"Berarti kau tahu apa yang akan dilakukan panti itu?"

Ia tersenyum dan mengangguk. Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita padanya tentang diriku yang pernah menjadi anak dari panti asuhan itu. Tetapi di akhir cerita, ia menangis. Itu membuat orang-orang dari kedai di pinggir jalan memperhatikan kami sejenak. Lalu kembali ke kegiatan utama mereka. Aku sibuk menenangkan gadis itu.

"Mengapa kau menangis?" Tulisku dalam buku kecilnya. Kemudian ia mengelap air matanya dan menulis.

"Kamu pasti sungguh sedih" Dia bersedih untukku? Bagaimana dengan dirinya?

"Tidakkah kau sedih karena harus pergi kesana?"

"Tidak, kamu sudah mengalaminya. Tetapi aku belum tahu apa yang akan terjadi."

Kemudian aku berpikir. Berpikir tentang bagaimana caraku untuk membuatnya tidak menderita dengan mereka.

Pagi itu, saat itu juga aku melamun lumayan lama. Ia bersabar menungguku sambil menikmati proses bangunnya sang surya. Setelah satu jam berlalu, aku rebut bukunya menghasilkan gadis kecil yang terkejut. Semua kemungkinan sudah kupikirkan dan inilah satu-satunya jalan. Aku tulis kemungkinan itu di bukunya.

"Ayo pergi bersamaku." Ia membacanya dan menoleh kepadaku. Dengan perlahan ia menulis.

"Bolehkah?"

Memang aku tampak sangat tidak meyakinkan. Tetapi pilihan ini telah kuperhitungkan. Bahkan perhitunganku mampu untuk membuatku berdiri dengan mantap. Lalu menjulurkan tanganku dan mengajaknya. Seperti yang kuharapkan, tangannya perlahan-perlahan mulai meraihku. Tetapi ia berhenti di tengah seakan ada sesuatu yang mencegahnya. Ia mengembalikan tangannya untuk meraih buku dan menulis.

"Tetapi...aku tuli"

Kata kata itu menyadarkanku dan membuatku berpikir lebih cepat. Tentang bagaimana ia tak mau bicara, hanya menulis, dan tak tahu suara sekitar. Semua masuk akal jika dihubungkan. Walaupun begitu, itu tidak mencegahku.

Kuraih tangannya dan mengambil bukunya. Kemudian membuka pulpen dengan perlahan. Semua terasa berhenti saat aku menulis. Gadis kecil ini memandangku penuh harapan sekaligus tegang. Aku serahkan kembali padanya buku itu. Matanya bergerak membaca tulisanku. Setelah itu, matanya bergerak melihatku dengan senyuman di wajahnya. Lalu kali ini ia yang menggandeng tanganku. Kami berlari kabur dari kota ini dan sejak saat itu hidup kami berubah. Sejak saat aku menuliskan dua kata itu di bukunya. Dua kata “aku bisu”.



-TAMAT-

 
 
 

Recent Posts

See All
Presiden Busana

Oleh : Felicia Tiffany Hertada Perdebatan itu terjadi di lorong kecil berlukiskan semburat-semburat cahaya jingga. Dengan pola bergaris,...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Instagram
  • LinkedIn

©2021 by Felicia Tiffany Hertada. Proudly created with Wix.com

bottom of page