Alif dan Sekolah Barunya (Refleksi Negeri 5 Menara)
- Felicia Tiffany Hertada
- Nov 30, 2022
- 3 min read
Negeri 5 Menara : Refleksi 1 (halaman 1- 53)
Sejak awal mula cerita dalam "Negeri 5 Menara", penulis telah memberikan perspektif tentang proses menuntut ilmu. Secara kontekstual sekolah negeri dipandang lebih memiliki privilese dibandingkan sekolah pesantren. Hal tersebut ditonjolkan dari pandangan Alif dan teman-temannya yang juga masih saya miliki sebelum membaca buku ini dan ditambah dengan fakta bahwa saya tidak mengetahui satupun hal tentang pesantren.
Menurut saya sendiri, privilese tersebut masuk akal. Di masa itu, ilmu pengetahuan di Indonesia sedang berkembang dengan pesat. Kekuasaan dalam negeri belum stabil. Pembangunan negeri baru bermula. Ditambah masyarakat masi berusaha mengejar ketinggalan ilmu dengan bangsa luar. Hal ini membuat mayoritas masyarakat lebih merasakan perubahan signifikan dengan ilmu dunia maya, seperti bagaimana dunia menjadi sangat modern dengan ilmu-ilmu sains . Hal ini membuat sekolah pesantren dibilang cukup terbuang dan diremehkan. Saat ini pun juga, menurut saya privilese seperti ini masih ada. Jujur saja, saya sangat jarang mendengar berita tentang sekolah-sekolah pesantren. Apalagi sebagai sekolah yang masuk top school di Indonesia atau mungkin ini hanya diri saya saja yang tidak mendengar.
Masyarakat lebih kagum dengan sekolah-sekolah negeri dan bahkan sekolah international, seperti bagaimana banyak sekolah saat ini berkejaran meningkatkan kualitas dengan mengadopsi kurikulum international ataupun sistem pembelajaran yang terbaik. Masyarakat lebih berburu untuk memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah yang telah memberikan prestasi-prestasi yang signifikan. Memang hal ini bagus untuk perkembangan dunia, namun juga menjadi salah satu penyebab sekolah pesantren seperti tertimbun tidak terdengar.
Dari bab 1- 6 yang telah saya baca dengan perlahan membuat saya penasaran. Apakah ada film dari buku ini sendiri? sehingga saya menemukan cuplikan dari film Negeri 5 Menara dan mulai menontonnya. Namun seperti kebanyakan adaptasi film dari sebuah buku, banyak hal di dalam cuplikan film ini yang tidak mencapai imajinasi ketika membaca bukunya. Khususnya saya rasakan dalam gaya sang tokoh dan tempat-tempat di buku ini. Dibalik itu, setelah melihat cuplikan dan membaca bagian awal dari buku ini, saya terpikirkan oleh satu novel karya Rick Riordan yaitu seri novel Percy Jackson. Sama seperti Alif, Percy, sang tokoh utama cerita ini diharuskan meninggalkan ibunya dengan paksa untuk salah satunya pendidikan dan pelatihan hidupnya. Dia bahkan juga merasa sangat asing namun kagum dengan lingkungan barunya.
Banyak sekali hal menarik bahkan ada beberapa hal kecil yang membuat saya terus membalikkan halaman untuk lanjut membaca. Yang pertama adalah dari wawasan baru seperti bahasa-bahasa dan sebutan baru yang baru saya dengar, seperti Syukran, akhi, Shabahal Khair, hingga sebutan dalam bahasa Indonesia yang baru saya dengar (seperti kereta angin). Saya bahkan sampai harus membuka dan menutup google untuk mengetahui sebutan baru terutama bahasa arab yang sangat asing.
Kemudian hal lain adalah tentang pemikiran sang penulis yang menjadi hal berbeda pula bagi saya. Terutama bagaimana bahasa, pendidikan, dan cerita di dalam ini sangat menjelaskan tentang kaum Muslim. Ada beberapa kalimat yang saya ingin ketahui, yaitu apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan. Atau mungkin saya tidak perlu berpikir sejauh itu?
Terakhir, saya merasa ada perbedaan mengenai pandangan saya terhadap pesantren saat membaca ini. Dari yang dideskripsikan pada buku, pesantren justru terlihat seperti sekolah top. Fasilitas yang disediakan bahkan sangat mencukupi dibandingkan dengan sekolah lainnya. Penulis dengan detail menceritakan kemegahan tersendiri dari sekolah ini, seperti fasilitas dan lapangan olahraga yang lengkap, perpus yang bagus, aula yang megah, dan bahkan hingga tempat untuk kesenian(?!) yang sangat saya kagumi disini.
Setelah membaca tentang bagian "man jadda wa jadda", saya menyadari salah satu inspirasi saya untuk terus maju juga adalah perkataan "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga". Menariknya, kutipan ini saya ambil dari salah satu ayat dalam alkitab dan membuktikkan bahwa memang benar sebuah agama itu baik adanya selama itu selalu mengajarkan kita untuk menjadi kebaikan itu sendiri.

Comments