top of page
Search

Andai Kalian Ingat

  • Writer: Felicia Tiffany Hertada
    Felicia Tiffany Hertada
  • Jul 16, 2022
  • 7 min read



Terkadang kita menyebut sesuatu itu berharga tanpa berpikir. Orang atau mungkin mahkluk lain selalu melihat hal yang berharga dalam bentuk yang berbeda. Begitu pula pada seorang pria yang sedang berdiri di toko sepedanya. Di hadapan ribuan orang perwakilan dari petinggi-petinggi negara, artis papan atas, kalangan rakyat menengah, hingga pendatang dan orang penting dari benua seberang, Ia tetap berdiri mematung dengan tangan kanannya memegang setang sepeda onthel untuk menunjukkan kepemilikannya. Bukti kegilaan dunia oleh seorang pria bermula sejak beberapa pekan lalu.

Hari itu, sebuah toko baru dibuka di atas tanah kecil bekas pergusuran rumah warga. Dengan ukuran yang tak lebih lebar dari lebar sebuah mobil sedan dan satu meter lebih panjang untuk masuknya sebuah sepeda, toko ini cukup mengundang rasa penasaran dari tetangga sesama pemilik toko di blok. Sudah lima tahun lebih bangunan toko itu kosong dan kini tiba-tiba muncul sebuah toko sepeda di tengah pusat perdagangan modern tengah kota.

Akhirnya, terkalahkan oleh rasa penasaran, para tetangga tersebut bergantian berlalu-lalang di depan toko untuk sesekali melirik-lirik ke dalam. Puas bermain mata, mereka berkumpul kembali.

“Lihatkah engkau? Ia hanya memiliki satu sepeda onthel di dalam toko.” Ujar seorang pemilik bar di area tersebut.

“Oh. Sudah pasti betapa mahalnya sepeda onthel tersebut.” Timpal saudagar rokok yang tokonya berada di sudut kota.

“Mengapa engkau begitu yakin? Bukankah itu sangat aneh? Biar aku tanyakan.” Setelah mengatakan demikian, seorang polisi mendatangi sang pria pemilik toko. Untuk mendapatkan sepeda itu, tak banyak yang dibutuhkan sang pria. Ia hanya berkata,

“Berikanlah aku hal berharga sebagai barang tukar untuk sepedaku karena dialah yang akan membawa kalian ke puncak kejayaan.”

Terheranlah seluruh tetangga dan orang-orang yang ikut berkumpul disitu. Beberapa menganggapnya gila atas pernyataannya tersebut. Beberapa yang lain sibuk memikirkan hal apakah yang dapat sang pria anggap berharga? Mendengar hal itu, seorang pedagang pasar datang dan menawar. Dengan rupa yang masih terlihat belum pernah dikayuh itu, sepeda onthel tersebut ditawar dengan harga 500 lembar uang. Sang pria tak bergeming dan dengan halus mulutnya mengucapkan tidak.

Selanjutnya, melihat pedagang pasar itu ditolak, datanglah pemilik sebuah market besar untuk menawar dengan harga dua kali lipat. 1000 lembar uang. Tetapi, kata yang sama terucap di mulut sang pria. Tidak.

Menyaksikan dua tawaran tersebut ditolak, maka, semakin berhargalah sepeda itu di mata para warga. Orang- orang di kota itu mulai menawarkan harganya masing-masing demi mendapatkan sepeda itu. Namun, kata “tidak” selalu keluar dari bibir sang pria. Hingga berita ini terdengar oleh seorang pemilik toko sepeda terbesar di kota. Pantas saja akhir-akhir ini peminat sepeda tidak mendatangi tokonya. Ia kemudian bersumpah akan menemukan alasannya dan mengakhirinya. Akhirnya, pemilik toko sepeda terbesar di kota pun datang menawarkan untuk bertukar dengan sebuah sepeda, sepeda keluaran terbaru yang baru saja diimpor. Tetapi, tetap saja kata yang sama terulang untuk menandakan penolakan sang pria.

Merasa kesal, pemilik toko sepeda terbesar di kota itu menendang sepeda impornya dan kembali dengan jumlah sepeda yang lebih. Sepuluh sepeda dengan kualitas teratas itu ditawarkannya. Gelengan kembali dilakukan oleh sang pria. Sang pemilik toko sepeda itu akhirnya menendang kembali seluruh sepedanya karena marah dan kesal. Begitu pula keesokan harinya dan seterusnya, jumlah sepeda yang ditawarkan untuk barter terus meningkat dua kali lipat dari hari kemarin.

Hingga akhirnya tiba pada sepeda terakhir miliknya, Ia tendang untuk meluapkan emosi karena penolakan. Kemudian, tersadarlah Ia atas apa yang sudah dilakukannya. Karena emosinya, Ia berakhir tak memiliki apa-apa di hidupnya. Terceritalah, sesaat setelah itu, utang-utang datang melilit dirinya dan tak ada keluarga yang ingin membantu orang itu. Orang yang selalu memperhitungkan harta ketika mereka butuh bantuan. Kini, Ia mengakhiri hidupnya sendiri untuk lari dari utang yang mengikat raganya. Namun, tidak ada yang tahu akan nasibnya sekarang yang masih terlilit utang yang mengikat jiwanya.

Para warga melihat pemilik toko sepeda terbesar di kota itu menawarkan seluruh kepemilikannya untuk sebuah sepeda onthel dan berakhir mengenaskan. Bukannya mengakhiri hal ini, para warga justru semakin terkagum dan memuja-muja sepeda onthel tersebut. Tidak bisa tinggal diam, berita mengenai sepeda ini tersebar ke berbagai daerah dan terus menyebar. Namanya juga dari orang ke orang dan tidak ada yang melarang untuk melebih-lebihkan berita tersebut. Ada yang mengatakan sepeda itu dahulu merupakan sepeda onthel pertama di dunia. Lalu yang lain mengelak dan mengatakan sepeda ini adalah sepeda milik seorang raja. Seorang ksatria palsu mengatakan ini adalah sepeda yang memberimu kesaktian dan kekuatan. Dari bibir ke telinga berita itu selalu berubah. Hingga akhirnya berita yang mengatakan sepeda ini akan membawa harta sampai di telinga seorang saudagar terkaya di pulau.

Menurut cerita, dahulu kala ada seorang saudagar yang baik hati. Karena kemurahan hatinya tersebut, akhirnya rakyat memilihnya untuk menjadi perwakilan di hadapan pemerintah. Tidak seperti pejabat lainnya, Ia tetap memperjuangkan keadilan dan tanggung jawab kepada orang yang memilihnya. Sayang, jabatannya terlalu rendah untuk didengar. Sedangkan Ia sendiri sadar, Ia tak akan pernah naik jika tangannya tidak kotor. Teriakan rakyat untuk keadilan terus mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Rakyat yang naif, pikirnya. Akhirnya desakan itu mendorongnya untuk memanjat ke atas dengan mengotori tangannya. Ia berjanji ketika sudah di puncak, Ia akan membersihkan tangannya kembali, bahkan membersihkan seluruh negeri dari pemerintahan yang kotor.

Demikianlah, Ia menjadi pejabat di tingkat predator tertinggi. Walau begitu Ia tetap memegang janjinya untuk membersihkan tangannya. Sayang beribu sayang lagi, Ia juga tetap kukuh memegang tekadnya untuk terus menunda janji. Besok. Besok saja. Masih ada besok. Begitulah pikirnya. Hingga saat ini janji manisnya itu berakhir mengotori seluruh negeri. Ia melihat dirinya sebagai orang baik, mengabaikan derita rakyat yang menjadi makanannya. Jabatannya kini, Ia manfaatkan sebaik-baiknya. Benar-benar sebaik-baiknya untuk membangun perusahaannya menjadi semakin besar. Ketika telah berhasil menyeret perusahaannya ke tingkat tertinggi, Ia mundur dari jabatannya dan meninggalkan kotorannya.

Ia yang menganggap dirinya baik itu datang ke toko sepeda dan merasa sangat layak mendapatkannya. “Wahai, penjual sepeda. Berapakah Kau inginkan untuk menukarnya dengan sepedamu itu? Katakanlah! Aku akan beri semua.” Katanya dengan berpikir remeh seberapa kecil harta yang harus Ia keluarkan untuk sang pria penjual sepeda.

“Aku hanya perlu hal berharga. Bagiku dan bukan bagimu.” Jawab sang pria.

Saat itu juga, saudagar itu menghujani toko sepeda sang pria dengan uang dan hartanya. Timbunan pertama tidak diterima. Timbunan kedua tetap tidak. Setiap timbunan yang berjumlah selalu berkali-kali lipat lebih banyak selalu dijawab dengan gelengan kepala sang pria. Timbunan harta ke-77 berakhir dengan gelengan tidak pula. Hartanya pun habis. Semuanya memenuhi toko sang pria dan menimbun jalanan di kota. Ia frustasi karena tawarannya yg tak pernah ditolak itu selalu ditolak mentah-mentah oleh sang pria. Akhirnya, Ia menawarkan harta terakhir miliknya, busananya. Ia yakin sang pria akan menukarnya dengan semua hartanya ini dan memberikan sepedanya yang pastinya akan membawa harta lebih yang pantas baginya. Tak terduga baginya, sang pria menolak kembali hartanya itu.

Tak memiliki apapun untuk ditawarkan lagi, akhirnya saudagar itu meminta pelayannya untuk mengumpulkan kembali hartanya untuk dibawa pulang. Nahas, pelayan itu tidak cukup bodoh untuk kembali diperbudak, maka, ketika mengetahui semua harta tuannya berada di situ. Satu-persatu dari mereka segera memunguti harta milik tuannya. Melihat hal itu, warga ikut memunguti uang yang sebenarnya memang milik mereka. Saudagar kaya seketika menjadi miskin, kasut pun tidak punya. Karena terlalu terkejut akan nasibnya, Ia berakhir terkena serangan jantung. Konon katanya, dokter yang merawatnya memiliki dendam kepadanya. Perawatan yang seharusnya dilakukan kepadanya selalu ditunda. Besok. Besok saja. Masih ada besok. Begitulah kata dokter itu setiap hari. Tanpa bisa berkata apa-apa, saudagar itu hanya bisa menahan sakit.

Bertambahlah penawaran dari orang-orang besar, berkuasa, dan terkenal setelah mendengar kisah mengenai sepeda onthel tersebut. Setelah mendapat harta yang begitu besar, warga semakin memuja-muja sepeda tersebut. Benar-benar sepeda yang membawa keberuntungan. Sepeda itu mulai menjadi pusat kota dan simbol dari kota.

Selain mengundang pemujaan, sepeda itu juga mengundang niat jahat. Di suatu malam, seorang perampok datang untuk merampok sepeda itu. Dengan mudahnya ia mendapatkan sepeda yang hanya diletakkan saja di dalam toko tanpa pintu yang terkunci. Merasakan kemenangan, Ia menuntun sepeda dengan begitu senang. Walau begitu, aneh jika perampok itu tidak merasa curiga. Bagaimana mungkin sepeda yang menggemparkan dunia ini didapatkannya dengan sangat mudah?

Tiba-tiba, Ia mendengar bisik-bisik orang diujung gang. “Aku dengar sepeda itu dijaga oleh pasukan jin. Siapa yang berani mengambilnya akan langsung mati jiwanya setelah 10 menit?” kata seorang ibu kepada tetangganya sambil menjemur pakaian. Takutlah perampok itu setelah mendengarnya. Benar saja, ketika Ia menoleh ke sebelah kanannya, sepasukan mahkluk yang tak dikenalinya sedang melihat ke arahnya. Terbirit-birit, Ia segera menaiki sepeda onthel itu dan mengayuh menjauhi tempat itu. Dengan berantakan dan terjatuh-jatuh, Ia terus mengayuh hingga berjam-jam untuk menghindari mahkluk yang Ia duga adalah jin. Para jin itu tidak pernah berhasil menangkapnya. Namun, juga tidak membiarkan perampok lolos. Seolah-olah itulah yang mereka rencanakan. Akhirnya, Ia terhenti di depan toko sepeda sang pria lagi. Berpuluh-puluh mahkluk jin juga berhenti di balik gedung sekitar lalu menguliti sang perampok dengan matanya. Sang perampok kemudian berlari dan terjatuh-jatuh karena terlalu takut, tentu saja melupakan hasil curiannya di depan toko.

Keesokan harinya, terpampang sebuah berita konyol di halaman depan koran. Tempat berita utama diletakkan, yang tentunya masih di bawah berita sepeda onthel sang pria. Dituliskan pada berita bahwa terdapat orang gila yang berlari-lari tanpa alasan dan terus berteriak “Maafkan aku. Aku mohon. Maaf.” Itulah alasan dari keributan tadi malam pukul 12.10 . Setelah membaca koran pagi tersebut, sang pria pemilik toko sepeda tersenyum dan mengeluarkan sepeda onthel nya yang belum berpindah tempat sejak kemarin sore.

Antrean untuk menawar sepeda itu masih panjang. Siapapun yang mengantre selalu berakhir pada tolakan. Sepeda onthel itu seakan-akan menjadi barang paling mulia di dunia. Semua mengorbankan sesuatu untuk ditukar dengan sepeda onthel itu. Seorang wanita mengorbankan tubuhnya untuk ditukar. Seorang lelaki menjual hatinya untuk ditukar. Seorang ayah memberi anaknya untuk ditukar. Seorang pelukis memberi tangannya untuk ditukar. Seorang pelari memberi kakinya untuk ditukar. Begitulah semua menawarkan hal paling berharga di hidupnya untuk sepeda onthel itu. Namun, tetap saja sang pria berkata tidak untuk menolak penawaran mereka dan semua berakhir mengenaskan untuk penawar.

Hingga, tiba di ujung antrean, seorang anak kecil ikut mengantre. Ia mengira orang-orang ini mengantre hanya untuk membeli sebuah sepeda biasa. Walaupun memang benar sepeda itu adalah sepeda onthel biasa.

“Bolehkan aku membeli sepeda ini? Bisakah aku mendapatkannya dengan uang segini. Kumohon, aku membutuhkannya untuk mengantar adikku ke sekolah hari ini.” Tanya anak kecil itu dengan tangannya yang menunjukkan uang 1 lembar. Warga di sekitar tertawa. Lalu benarlah pemikiran mereka, sang pria menggeleng pula. Namun, untuk alasan yang berbeda.

“Tidak perlu membayar, nak. Ambillah saja sepeda itu.” Sebelum warga maju untuk protes, sang pria melanjutkan. “Lagipula sepeda ini sudah selesai melakukan tugasnya bagiku. Sekarang dunia sudah bersih. Lalu, bagimu, gunakanlah sepeda ini untuk melakukan tugasnya.”

Segera setelah itu anak kecil tersebut segera berterimakasih dan mengayuh sepeda membiarkan tatapan tak percaya dari seluruh dunia di punggungnya. Akhirnya, mereka semua menyadari semua tindakan sang pria dan mulai merenungkannya. Sama seperti yang terjadi lima tahun lalu, ditutuplah kembali toko tersebut. Andai manusia ingat, barang terbaru akan selalu datang ketika manusia mengulangi dosa mereka kembali.



Cerpen oleh : Felicia Tiffany H

 
 
 

Recent Posts

See All
Dua kata

Oleh : Felicia Tiffany Hertada Malam itu dingin. Sungguh dingin. Butiran salju terus mendarat di rambut pendekku. Keberadaannya seakan...

 
 
 
Presiden Busana

Oleh : Felicia Tiffany Hertada Perdebatan itu terjadi di lorong kecil berlukiskan semburat-semburat cahaya jingga. Dengan pola bergaris,...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Instagram
  • LinkedIn

©2021 by Felicia Tiffany Hertada. Proudly created with Wix.com

bottom of page