top of page
Search

Angka-Angka Tak Penting? (Artikel)

  • Writer: Felicia Tiffany Hertada
    Felicia Tiffany Hertada
  • Nov 30, 2022
  • 3 min read



Angka-angka
Suka-sukalah
Terserah!
Apa peduliku padanya?

Angka kematian yang telah digunakan sebagai indikator penetapan wilayah dalam kelevelan di Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah tidak digunakan oleh pemerintah sebagaimana kutipan dari puisi diatas berbunyi. Hal ini menjadi topik yang diangkat oleh penulis, Ari Junaedi, seorang Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama, yang pastinya tidak dapat diremehkan.

Hal pertama yang menangkap perhatian di sini adalah bagaimana kecurigaan dan keanehan dari keputusan pemerintah menghilangkan angka kematian. Penulis meletakkan kedua alasan yang diketahui dan menyandingkannya berurutan. Mengenai ditemukannya input akumulasi yang membuat data terdirtorsi sehingga mempengaruhi penilaian dan mengenai adanya data yang tidak aktual. Alasan yang tidak masuk akal dan tidak kuat diatas keputusan penghilangan ini menimbulkan banyak kebingungan di masyarakat yang diwakili oleh penulis.

Kebingungan dibalik keputusan ini tentunya membangun pemikiran buruk dari masyarakat. Apakah memang benar angka ini tidak begitu penting? Atau ditakutkan jika angka kematian yang ditunjukkan akan merusak citra pemerintah yang dianggap berhasil menangani pandemi? Penulis secara tidak langsung mengumpulkan dan menyuarakan pertanyaan rakyat. Ditambahkan dengan sindiran


Begitu burukkah atau malah mencemaskan dengan ribuan angka kematian akibat terjangan virus Covid?

Pertanyaan kedua yang membawa pemikiran positif justru bagi saya terlihat sangat sarkas. Ketika sebelumnya dikatakan tentang bagaimana angka kematian merusak citra, pertanyaan “mencemaskan kah?” mengandung makna yang bertolak belakang.


Keanehan ini kemudian penulis tegaskan dengan kumpulan pernyataan para ahli dan mereferensikannya pada data-data nyata. Dibanding menghilangkan, distorsi, data justru harus dibenahi. Angka kematian ini merupakan suatu hal yang menjadi kunci di tengah pandemi ini, penghapusan angka bahkan dapat berakhir berbahaya. Ditambah hal ini menyangkut nyawa ribuan manusia. Terbukti lebih nyata ketika penulis menggaris bawahi terdapat 19.192 angka kematian yang tidak terhitung. Hal ini dapat berdampak pada derajat keparahan suatu daerah yang dapat memberi ketenangan palsu bagi masyarakatnya. Itulah mengapa ditunjukkan disini sebuah pilihan dan penggiringan opini pembaca untuk melihat mengapa penghapusan angka kematian merupakan hal yang perlu diperhatikan.

Lebih dalam lagi, tulisan ini dapat diinterpretasikan mengenai bagaimana pemerintah lebih memilih menghapus dibandingkan memperbaiki kesalahan yang ada. Padahal angka kematian merupakan indikator penyebaran pandemi covid-19. Baru saja angka kematian dihilangkan dan sudah terlihat dampaknya yang begitu aneh dan misterius dengan penurunan level di 26 kabupaten dan kota. Hal ini saja sudah menggiring pernyataan awal penulis mengenai pengrusakan kebaikan citra pemerintah.


Menariknya, seolah hapal dengan pola pikir pemerintah, penulis memperkirakan kejadian revisi setelah isu ini semakin viral dan protes bermunculan dari berbagai kalangan. Ia memperkirakan bagaimana kata penghilangan dapat dengan mudah dimodifikasi dan dimainkan menjadi penghentian sementara. Namun, diawal penulisan, penulis menegaskan kata tidak menggunakan/menghilangkan dengan -meminjam kata yang digunakan pemerintah-, seperti ingin menyebutkan sebuah bukti dari pernyataan pemerintah. Selain itu, ternyata penulis juga mengeluarkan sebuah permisalan mengenai adanya politik komunikasi sejak era Soeharto. Penulis tahu betul masyarakat tidak akan bisa lagi mengajukan protes jika politik komunikasi ini sudah terjadi, seperti bagaimana selama ini perkataan dan perdebatan di dalam masyarakat itu sendiri akan meredam masalah yang ada setelah timbul isu terbaru.

Berbicara mengenai komunikasi, angka kematian ini juga merupakan simbol yang ada di masyarakat. Penghilangan simbol komunikasi ini juga tidak dapat diabaikan begitu saja dengan alasan yang tertera di atas. Kematian seolah-olah menjadi hal yang simple dan diremehkan dengan adanya penghapusan angka kematian. Suara yang tidak segera didengar juga dapat mempertegas ketidakpedulian pemerintah.



 
 
 

Recent Posts

See All
Dua kata

Oleh : Felicia Tiffany Hertada Malam itu dingin. Sungguh dingin. Butiran salju terus mendarat di rambut pendekku. Keberadaannya seakan...

 
 
 
Presiden Busana

Oleh : Felicia Tiffany Hertada Perdebatan itu terjadi di lorong kecil berlukiskan semburat-semburat cahaya jingga. Dengan pola bergaris,...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Instagram
  • LinkedIn

©2021 by Felicia Tiffany Hertada. Proudly created with Wix.com

bottom of page