Bumbu-bumbu Pendidikan (Refleksi Negeri 5 Menara)
- Felicia Tiffany Hertada
- Nov 30, 2022
- 3 min read
Refleksi 4
"Sahirul Lail-Parlez Vouz Francais"
194 – 264

Sahirul Lail hingga bab lima benua menunjukkan seberapa pentingnya pendidikan bagi mereka. Di bab-bab sebelumnya lebih ditegaskan sekolah dengan dasar pondok dan dijelaskan tentang sistem pendidikannya yang berbasis Islam. Walau memang diperlihatkan bagaimana pendidikan duniawi juga sangat difokuskan di sini, namun bab-bab ini menunjukkan keseriusan dari hal tersebut. Bentuk ujian yang pondok madani lakukan sangat memberi kesempatan bagi siswa untuk maksimal dalam belajar dan mempersiapkan ujian. Memang, seharusnya belajar itu setiap waktu sehingga ujian dilakukan kapanpun saja bisa. Tapi pondok madani tetap menghargai siswa yang ingin belajar lebih dan fokus hingga malam hari. Mereka pun juga menugaskan guru-guru untuk membantu siswa disaat yang tepat seperti ini, yaitu ketika siswa memiliki semangat yang berkobar-kobar untuk belajar. Ujian yang dilakukan pun terlihat sedikit berbeda dengan adanya bentuk tes lisan ataupun kaligrafi dan mata pelajarannya sangat beragam. Keunikan dari pondok madani juga terlihat dari ragam mata pelajaran yang tidak biasa seperti sekolah-sekolah lain. Hal ini nantinya dapat memberi kesempatan bagi sebagian siswa untuk mendapatkan ilmu yang tidak mereka dapatkan di sekolah lain atau sekolah sebelumnya. Tetapi disela-sela masa ujian yang penuh dan padat ini mereka juga tidak lupa doa yang selalu penting.
Selain kehidupan sekolah, juga diceritakan disini dalam perspektif Alif sang anak merantau mengenai bagaimana liburan dan masa senang akan selalu ada menemani hari-hari kita. Alif adalah seseorang yang kurang mampu untuk membeli tiket pulang ke rumahnya dan memperhitungkan pula mengenai jarak dan waktu yang dibutuhkan. Walau begitu, temannya secara tidak langsung memberikan harapan kepada Alif untuk dapat menikmati liburnya dengan kesenangan lainnya. Alif justru mendapat kesempatan yang lebih berharga yaitu berkeliling Bandung dan Surabaya di pulau yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Banyaknya pengalaman baru dan hal-hal yang Ia dapatkan karena berani keluar dari zona nyamannya membuat Alif makin tidak menyesali keputusannya untuk merantau dan sekolah di Pondok Madani. Disini terlihat juga bagaimana Pondok Madani membantu Alif dalam ilmu. Terasa nyata bagi Alif bagaimana praktik berpidato yang diwajibkan oleh pondok Madani kini membantu Alif menghadapi ketakutannya dan menjadi percaya diri serta pandai membawa pidato yang berkobar kobar
Namun, semua hal yang terlihat dan terdeskripsikan dalam buku ini tidak terlewat dari bahasa penulis. Penulis tetap menghadirkan bahasa yang hingga akhir saya sadari menarik dan ringan tetapi tidak memusingkan pembaca. Sehingga walau ada beberapa bahasa yang tidak memberi makna asli secara langsung, hal itu tetap dapat tersirat dan memiliki nilai humor tersendiri. Penulis juga mengerti bagaimana membentuk saat-saat yang tepat untuk serius maupun bercanda sehingga tidak ada bagian yang sangat berbanding berbalik dan aneh disini.
Bumbu-bumbu menarik itu dapat terlihat dari satu bab yang berbeda dari bab lainnya yang sebagian besar menginspirasi. Bab itu adalah mengenai “Princess of Madani”. Di bab ini kelucuan tentang anak-anak pesantren yang lugu atas hal-hal percintaan sangat terlihat. Mungkin beberapa orang yang membaca akan tertawa ataupun berpikir “norak” dan lanjut membaca karena penasaran. Ada juga kisah lain yang menarik seperti bagaimana terdapat pencurian yang terjadi di pondok madani. Bahkan peristiwa yang terjadi pun cukup mengerikan dan memperlihatkan kemampuan bela diri yang juga bagus di pondok madani.
Terakhir, hal pengajaran nilai moral di pondok madani tetap terlaksana. Sedikit mengejutkan ketika dijelaskan mengenai sistem yang berjalan di pondok madani. Tentang apa yang sebenarnya menjalankan proses pembelajaran di pondok madani. Ada yang dinamakan sistem ikhlas dan wakaf katanya. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat mulia. Banyak orang yang membayangkan betapa sulitnya kehidupan tanpa uang dan harta. Namun justru orang-orang sukses di pondok madani bekerja tanpa bayaran. Hanya dengan hati dan keikhlasan. Diceritakan di novel ini, sebagian besar orang yang bekerja di pondok madani adalah orang-orang yang telah mencicipi kekuasaan maupun penghargaan yang tinggi diluar sana. Bisa saja mereka menjadi pemimpin terpandang di mata dunia dengan tekad yang sangat kuat. Namun mereka justru memilih untuk mengajar di pesantren kecil ini dibanding dengan sekolah-sekolah besar di dunia. Terbukti pondok madani bukanlah tempat yang biasa-biasa saja dan menjadi tempat pembuangan untuk anak-anak nakal yang tidak diterima di sekolah biasa lainnya.

Comments