Cuplikan Perjuangan dan Kebahagiaan Alif serta teman-temannya (Refleksi Negeri 5 Menara)
- Felicia Tiffany Hertada
- Nov 30, 2022
- 3 min read
Refleksi 3 Negeri 5 Menara
132 -193 : "Keajaiban itu datang Pagi-pagi-Festival Akbar"

Dalam bab-bab bacaan ini, kita mulai diajak untuk semakin mendalami kegiatan-kegiatan dan hal menarik dari kehidupan Alif di asrama. Dimulai dari hal yang spesifik pada perkembangan Bahasa dari Alif dan teman-teman hingga keseruan dan kelucuan mereka di pondok Madani.
Pada awal lembaran baru ini, kita disadarkan akan pentingnya latihan dan usaha dalam suatu hal. Alif dan teman-temannya dipaksakan untuk bisa dan terus mencoba membiasakan Bahasa Arab yang sangat asing. Terlihat pada bacaan, penulis menceritakan tentang bagaimana siswa Pondok Madani berasal dari beragam daerah dan memiliki banyak perbedaan, baik itu budaya, ekonomi dan sosial. Pastinya semua siswa tersebut mendapatkan pendidikan yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang berbeda pula terlebih antara daerah perkotaan dan pedesaan. Walaupun mereka melalui tes yang sama, belum tentu mereka semua memiliki keluasan ilmu dan sistem adaptasi belajar yang sama.
Namun, Pondok Madani pada akhirnya tetap meminta mereka semua dengan ketat untuk selalu menggunakan Bahasa Arab bahkan inggris. Sebuah jurnal analisis mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa yang baik adalah pembelajaran yang menjadikan pendidik dan peserta didik merupakan dua komponen yang saling terkait dan tidak mungkin dipisahkan sehingga terdapat komunikasi timbal balik yang edukatif. Di sinilah kata komunikasi timbal balik digarisbawahi untuk menjadi salah satu hal terpenting dalam pembiasaan bahasa asing. Banyak sekali sekolah yang berusaha menerapkan penggunaan bahasa asing, namun sedikit yang benar-benar dapat berhasil. Hal ini dikarenakan siswa tentunya ingin menggunakan Bahasa yang mereka kuasai atau bisa jadi karena memiliki rasa malu untuk memulainya. Tanpa pengawasan, akan ada siswa yang melanggar dan pondok Madani mengadakan jasus untuk mengatasi hal ini dengan tepat. Kemudian, ditunjukkan oleh Alif dan teman-teman yang telah mulai menggunakan Bahasa asing (arab dan inggris) dalam kalimat lengkap dan merasakan manfaat dari keputusan dan sistem penggunaan bahasa asing yang pada awalnya mereka ragukan.
Penggunaan dan pembelajaran Bahasa asing yang mereka lakukan juga lebih bervariasi. Salah satu contoh yang dijabarkan oleh penulis adalah adanya pelatihan pidato dalam Bahasa asing. Mereka diharuskan tampil di depan umum dan didorong untuk bersuara. Dengan adanya sistem ini, siswa secara tidak langsung akan terdorong untuk berpidato sebaik mungkin demi menjaga nama mereka sendiri. Hal ini menunjukkan seberapa besar kepedulian Pondok Madani terhadap Pendidikan yang tidak main-main. Sebagaimana sesuai
Kemudian pada bagian khusus tersendiri, penulis tidak hanya mengajarkan dan menceritakan tentang kehidupan akademik dan rohani di pesantren. Penulis ingin mengingatkan pembaca pentingnya untuk tetap ingat terhadap orang tua. Orang tua adalah keluarga yang paling berharga dan pendukung terbesar kita. Terkhusus dalam kehidupan berasrama ketika Alif harus tinggal jauh dari orang tua. Sebesar apapun keinginan seorang anak untuk bebas menentukan pilihan, alangkah baiknya anak selalu menaruh percaya pada orang tua dan memasukkan nasihat orang tua ke dalam pertimbangan.
Dapat terlihat semakin jelas dari bab Abu Nawas dan Amak, ketika Alif sadar seberapa pentingnya dan bermaknanya seorang orang tua dalam hidupnya. Akhirnya Alif pun bertobat dan berdoa untuk orang tuanya walau orang tua Alif pada awalnya tidak memenuhi keinginan Alif untuk bersekolah di SMA.
Berbicara tentang SMA dan pondok, ditunjukkan juga perspektif dari Atang yang pernah merasakan satu tahun bersekolah di SMA. Ia bercerita kepada Alif tentang bagaimana SMA itu memang masa yang indah dan berbahagia. Namun, Atang pada akhirnya memilih pindah ke Pondok Madani. Mengapa? Atang sendiri merasa bahwa masa yang indah belum tentu adalah masa yang berguna untuk menyiapkan mental dan kepribadian di masa depan nanti. Disini ditegaskan tentang eksistensi sekolah Pondok Madani yang begitu ketat, teratur, dan penuh kesibukan adalah keuntungan yang tidak terlihat saat ini dan memang sulit diakui oleh siswa yang merasakan tantangan ini.
Namun, segalanya belum tentu harus selalu tegang dan tertib. Terkadang memang dibutuhkan kebahagiaan kecil dan kenikmatan masa sekolah yang akan selalu diingat siswa-siswanya. Seperti bagaimana Alif dan teman-temannya yang mendapatkan waktu luang untuk berkumpul dan bercerita bersama. Hingga kebahagiaan untuk fokus dan melakukan hobi siswa masing-masing di kegiatan ekskul yang beragam. Lalu diseduhkan juga kisah-kisah usil Alif dan teman-temannya yang berhasil merayu pondok dan mengadakan acara keakraban melalui kebersamaan menonton pertandingan badminton bersama. Menurut saya sendiri, hal-hal selipan mengenai keusilan dan juga hal-hal melanggar aturan ataupun pertemanan di kisah lima Menara menunjukkan pendidikan yang seharusnya dilakukan. Siswa harus didorong untuk berkembang dan keluar dari zona nyaman tapi juga merasakan kenyamanan mereka di situasi itu sehingga semuanya akan terus teringat di masa depan.

Comments